FESTIVAL PESONA BAU NYALE 16 SAMPAI DENGAN 17 FEBRUARI 2017

Bau Nyale merupakan upacara budaya khas masyarakat Lombok yang biasa digelar di Pantai Kuta, Seger dan Selong Belanak. Tahun 2017 yang akan datang pelaksanaannya dipusatkan di Pantai Seger, Pujut, Lombok Tengah. Dalam bahasa Lombok, kata bau artinya menangkap, sedangkan nyale merupakan hewan sejenis cacing laut. Hewan laut ini unik karena hanya ada setahun sekali dan muncul di sepanjang pesisir selatan pulau Lombok. Nyale dapat diperoleh pada sekitar hari ke 19 - 20 bulan kesepuluh dan kesebelas awal tahun Penanggalan Sasak. Hal ini ditandai dengan munculnya bintang Rowot.



Menurut kalender penanggalan suku Sasak, bulan kesatu dimulai pada 25 Mei dan banyaknya hari dalam satu bulan adalah 30 hari. Penentuan tanggal bau Nyale (Menangkap Cacing Nyale) ditentukan berdasarkan penanggalan Sasak tersebut sekaligus hasil dari kesepakatan para tokoh adat.

Pesta rakyat digelar untuk mengenang kisah Putri Mandalika, putri raja Lombok yang berparas cantik jelita. Kecantikannya yang tersohor terkenal hingga negeri seberang. Keanehan yang terjadi pada diri putri Mandalika, setiap pangeran yang datang melamar tak satupun ia tolak. Ini dilakukan karena Putri Mandalika karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah karena memperebutkan dirinya.
Para pangeran tidak bisa menerima keputusan sang putri yang menerima semua lamaran para pangeran, atas kesepakatan sang Putri dengan keluarga Kerajaan, Putri Mandalika lalu mengadu kekuatan para pangeran di sebuah arena pertarungan berupa Presean. Siapa yang menang di arena Presean ini lah yang nantinya berhak mempersunting sang Putri. Pertumpahan darah hampir terjadi dan Putri Mandalika menjadi sedih, lalu ia memutuskan untuk tidak menerima lamaran dari semua pangeran dan meminta waktu untuk berfikir matang.

Suasana Pagi di Pantai Seger. Photo by Didik Hariadi Mahsyar
Dalam kegalauan dan kegundahannya, sang putri bersemedi dan mendapat wangsit agar ia mengorbankan jiwa dan raganya hanya demi rakyatnya. Dalam wangsit tersebut, sang putri diberikan perintah untuk mengundang semua pangeran dan seluruh rakyat Lombok pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak untuk datang ke pantai Seger Kuta, Lombok.
Pada hari yang ditunggu dan semua pangeran dan rakyat berkumpul, sang putri berkata bahwa dia lebih memilih untuk mengorbankan diri kepada rakyak-nya dan akan menjadi Cacing Nyale yang dapat dinikmati oleh semua orang pada bulan dan tanggal tersebut. Tidak lama setelah berbicara sang putri menceburkan diri kedalam laut dan langsung ditelan gelombang. Setelah petir dan angin bertiup kencang, pantai kembali tenang lalu muncul hewan berbentuk cacing laut yang berwarna warni sangat indah. Binatang laut yang berwarna warni ini lantas disebut dengan sebutan Nyale.

Cacing Nyale. Photo by @ekafitriani_
Pada umumnya masyarakat Lombok meyakini bahwa mendapatkan Nyale berhubungan dengan kesejahteraan, keselamatan serta kehidupan yang lebih baik. Seperti hal-nya masyarakat Yogyakarta ketika berusaha mendapatkan benda-benda gunung Grebeg, masyarakat Surakarta yang berusaha memperoleh kotoran Kerbau Kyai Selamet dan kepercayaan kepercayaan di daerah lainnya.
Masyarakat Lombok juga percaya Nyale bisa menyuburkan tanah sehingga mereka akan mendapatkan panen yang melimpah. Jika jumlah cacing-cacing yang keluar dari laut jumlahnya banyak, maka pertanian yang mereka olah akan mendapatkan hasil yang baik juga.
Cacing Nyale yang ditangkap di bibir pantai kemudian ditaburkan sebagian ke sawah dan sisanya di olah menjadi lauk pauk, berupa pepes, sambal nyale hingga masakan bersantan. Kadang-kadang cacing nyale juga dijadikan sebagai obat beberapa jenis penyakit.

Saat perayaan “Event Bau Nyale” berlangsung, 3 hari menjelang perayaan tersebut bukit Seger Kuta disemuti oleh masyarakat yang menanti tibanya waktu menangkat Nyale. Beberapa rangkaian acara seperti pemilihan putri Mandalika, Karnaval budaya dengan ragam aktifitas budaya akan menghiasai rangkaian acara demi acara “event budaya” ini. Selain itu mereka juga berhasrat untuk menyaksikan pertandingan Presean, dua petarung dari dua desa yang akan beradu ketangkasan dengan bilah rotan dalam 4 ronde.

Peserta Kontes Putri Mandalika
Kemudian di malam hari hingga dini hari, bibir pantai dan bukit bukit sekitar Bukit Seger akan tampak penuh sesak dan meriah oleh kelap kelip lampu lampu senter dan perkemahan para penduduk.
Pagi hari sekitar pukul 04.00 masyarakat akan berbondong-bondong turun ke laut yang surut, menyemut hingga 200 meter ke arah laut, berusaha dan berlomba-lomba menangkap nyale di sepanjang Pantai.

Ketika semburat merah di ufuk timur muncul, maka masyarakat pun mulai beringsut kembali ke darat. Mereka harus menyudahi aktifitasnya, karena air laut mulai pasang dan juga cacing nyale sudah mulai menghilang. Hari itu apapun dan seberapapun banyak Nyale yang mereka peroleh, itulah rejeki mereka.

Bagikan

Jangan lewatkan

FESTIVAL PESONA BAU NYALE 16 SAMPAI DENGAN 17 FEBRUARI 2017
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Terima kasih Sudah Berkunjung